analisis vektor terhadap atlet panahan
BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Olahraga panahan sudah lama dikenal di
Indonesia, olahraga ini membutuhkan sentuhan jiwa yang halus, kesabaran,
keuletan, konsentrasi dan ketahanan mental yang tinggi serta memiliki tingkat
kecemasan yang tinggi. Sehingga unsur-unsur seperti postur tubuh, teknik dasar,
mekanisme gerak, mentalitas dan kondisi fisik sebagai sebuah kesatuan yang
harus dimiliki oleh seorang pemanah. Seperti sebuah seni, olahraga panahan
sangat kompleks tidak seperti yang kita lihat yaitu menarik, dan melepaskan
panah. Dilihat dari karakteristiknya olahraga panahan adalah melepaskan panah
melalui lintasan tertentu menuju sasaran pada jarak tertentu. Apabila
diperbandingkan dengan olahraga yang memerlukan gerak statis atau suatu
keterampilan tertutup lainnya seperti cabang olahraga menembak, perbedaan
panahan dengan menembak terletak pada jenis kekuatan dorongannya. Pada menembak
kekuatan dorongan diperoleh dari ledakan alat itu sendiri, sedangkan pada
panahan kekuatan dorongan sangat tergantung pada energi atau tenaga yang timbul
karena tarikan atau rentangan pemanah terhadap busur, dimana energi yang
diperoleh dari rentangan diubah menjadi daya dorong pada waktu panah
dilepaskan. Oleh karena itu penggunaan alat tersebut memerlukan kekuatan dan
daya tahan otot-otot tetentu terutama untuk menarik busur, dalam olahraga
panahan atau olahraga lainnya. atlet sangat dituntut untuk menampilkan
penampilan terbaiknya. Nampaknya ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi atlet
yang tidak terlatih, bahkan atlet terlatih pun seringkali mengalami kesulitan.
Untuk mengatasi hal ini, bisa dibantu dengan memahami biomekanik. Dalam makalah
ini, penulis akan menganalisis teknik panahan secara biomekanik, terutama
dikhususkan pada teknik release. Dengan tujuan supaya kita dapat memahami dan
menerapkan ilmu biomekanik dalam menganalisis teknik dalam olahraga panahan.
BABII
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
BIOMEKANIKA
1. Pengertian Biomekanika
Biomekanik adalah ilmu pengetahuan yang
menerapkan hukum-hukum mekanika terhadap struktur hidup, terutama sistem
lokomotor dari tubuh (Hidayat, 2003). Biomekanika mempelajari bentuk dan
macam-macam gerakan atas dasar prinsip-prinsip mekanika dan menganalisis
gerakan untuk dimengerti
2. Tujuan Biomekanika
Tujuan
mempelajari biomekanika adalah:
1.
Menambah
pengetahuan dasar sehingga kita mempunyai cakrawala yang luas tentang gerak
tubuh.
2.
Kemampuan
untuk mengetahui manfaat mekanis dari gerakan (memahami, meramalkan, dan
mengontrol gerak secara kritis).
3.
Mengetahui
persyaratan-persyaratan teknis dari setiap tugas gerak (mengembangkan
nilai-nilai yang relevan).
4. Selain
itu tujuan menggunakan biomekanik adalah untuk meninggkatkan performance,
equipment, training methods, coaching technique, dan reduction in in jury.
Seorang
guru, pelatih, instruktur atau siapapun yang terlibat dalam pembinaan olahraga
perlu mengetahui biomekanik, sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk menjawab
permasalahan mengenai:
1.
Bagaimana pelaksanaan gerak yang
benar?
2.
Apa yang salah pada geraakan itu?
3.
Mengapa gerakan itu salah?
4.
Apa yang harus dilakukan untuk
memperbaikinya?
Melalui biomekanika kita akan
membiasakan diri untuk melakukan kegiatan atau gerak yang efisien
B.OLAHRAGA PANAHAN
Olahraga panahan dikatakan sebagai
suatu kegiatan menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah. Olahraga
panahan dilihat dari segi biomekanik terdapat pada klasifikasi keterampilan
yaitu melontarkan objek untuk mencapai ketepatan maksimum. Kemudian, ditinjau
dari segi belajar motorik (motor learning) panahan merupakan bagian dari
keterampilan tertutup yaitu suatu keterampilan yang stimulusnya tidak dapat
berubah. Setiap individu menginginkan sebuah hasil dari suatu proses latihan
yang panjang. Hal ini digambarkan sebagai tolak ukur dalam menilai keterampilan
atau kemampuan individu tersebut. Dalam olahraga, hasil atau tujuan yang
dicapai disebut prestasi. Menurut Poerwadarminta, prestasi dikatakan sebagai
hasil yang telah dicapai atau dilakukan dikerjakan dan sebagainya. Dalam cabang
olahraga panahan selain membutuhkan kondisi fisik yang prima seorang pemanah
harus pula menguasai teknik dasar memanah yang baik dan benar agar dapat
mencapai prestasi optimal. Seorang pemanah dikatakan memiliki kondisi fisik
yang prima, jika ia memiliki daya tahan serta kekuatan otot yang dipergunakan
langsung dalam memanah. Berikut ini disajikan sembilan langkah teknik dasar
untuk pemanah pemula, yaitu:
1.
Sikap berdiri (stand)
Sikap berdiri (stand), menurut Damiri,
“Sikap/posisi kaki pada lantai atau tanah. Sikap berdiri yang baik ditandai
oleh: (1) titik berat badan ditumpu oleh kedua kaki/tungkai secara seimbang,
(2) tubuh tegak, tidak condong ke depan atau ke belakang, ke samping kanan
ataupun ke samping kiri.” Terdapat empat macam sikap kaki dalam panahan, yaitu
open stand, square stand, close stand, dan oblique stand, yang kebanyakan
dipakai oleh pemanah pemula adalah sikap square stand atau sikap sejajar.
2.
Memasang ekor panah (nocking)
Memasang ekor anak panah (nocking),
menurut Damiri, “Gerakan menempatkan atau memasukkan ekor panah ke tempat anak
panah (nocking point) pada tali dan menempatkan gandar (shaft) pada sandaran
anak panah (arrow rest). Kemudian diikuti dengan menempatkan jari-jari penarik
pada tali dan siap menarik tali.” Memasang ekor panah dalam olahraga panahan
bisa menjadi fatal apabila salah penempatan baik terlalu atas ataupun terlalu
bawah, maka perlu untuk memperhatikan kembali apakah anak panah yang dipasang
sudah lurus tersandar di busur ataukah belum.
Sumber: www.archery.metu.edu.tr
3.
Mengangkat lengan busur (extend)
Mengangkat lengan busur (extend),
menurut Damiri, “Gerakan mengangkat lengan penahan busur (bow arm) setinggi
bahu dan tangan penarik tali siap untuk menarik tali.” Hal-hal yang harus
diperhatikan, yaitu lengan penahan busur rileks, tali ditarik oleh tiga jari
yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Tali ditempatkan atau lebih
tepatnya diletakkan pada ruas-ruas jari pertama, dan tekanan busur terhadap
telapak tangan penahan busur ditengah-tengah titik V, yang dibentuk oleh ibu
jari dan jari telunjuk (lengan penahan busur), penulis memperjelas dengan
memberikan gambar.
Sumber: www.archery.metu.edu.tr
4.
Menarik tali busur (drawing)
Menarik tali busur (drawing), menurut
Damiri, “Gerakan menarik tali sampai menyentuh dagu, bibir dan atau hidung.
Kemudian dilanjutkan dengan menjangkarkan tangan penarik tali di dagu.” Ada
tiga fase gerakan menarik, yaitu pre-draw, primary draw dan secondary draw.
Pre-draw adalah gerakan tarikan awal. Pada saat ini sendi bahu, sendi siku dan
sendi pergelangan tangan telah dikunci. Primary-draw atau tarikan utama adalah
gerakan tarikan dari posisi pre-draw sampai tali menyentuh atau menempel dan sedikit
menekan atau mengetat pada bagian dagu, bibir dan hidung dan berakhir pada
posisi penjangkaran. Secondary-draw atau tarikan kedua adalah gerakan menahan
tarikan pada posisi penjangkaran sampai melepas tali (release).
Didalam buku penataran pelatih program pembinaan cabang olahraga panahan tingkat SD dan SLTP yang dipergunakan untuk menarik adalah: jari, punggung telapak (wirst), dan lengan bawah. Ketiga bagian ini pada posisi lurus kemudian lengan atas selanjutnya bahu dan otot belakang. Kebanyakan pemanah-pemanah pemula hanya menggunakan jari-jari saja, kebanyakan mereka tidak menggunakan otot-otot yang seharusnya dipergunakan seperti yang sudah dijelaskan pada halaman-halaman sebelumnya.
Didalam buku penataran pelatih program pembinaan cabang olahraga panahan tingkat SD dan SLTP yang dipergunakan untuk menarik adalah: jari, punggung telapak (wirst), dan lengan bawah. Ketiga bagian ini pada posisi lurus kemudian lengan atas selanjutnya bahu dan otot belakang. Kebanyakan pemanah-pemanah pemula hanya menggunakan jari-jari saja, kebanyakan mereka tidak menggunakan otot-otot yang seharusnya dipergunakan seperti yang sudah dijelaskan pada halaman-halaman sebelumnya.
Sumber : Haywood, M Kathleen and Lewis
F.Catherine Archery Steps to Succes
5.
Menjangkarkan lengan penarik (achoring)
Menjangkarkan lengan penarik
(anchoring), menurut Damiri, “Gerakan menjangkarkan tangan penarik pada bagian
dagu.” Hal yang harus diperhatikan, yaitu tempat penjangkaran tangan penarik
tali harus tetap sama dan kokoh menempel di bawah dagu, dan harus memungkinkan
terlihatnya bayangan tali pada busur (string alignment). Ada dua jenis
penjangkaran, yaitu penjangkaran di tengah dan penjangkaran di samping. Pada
penjangkaran di tengah, tali menyentuh pada bagian tengah dagu, bibir dan
hidung serta tangan penarik menempel di bawah dagu. Pada penjangkaran di
samping, tali menyentuh pada bagian samping dagu, bibir dan hidung,serta tangan
penarik menempel dibawah dagu.
Sumber:
www.archery.metu.edu.tr
6.
Menahan sikap panahan (tighten)
Menahan sikap panahan (tighten),
menurut Damiri, adalah: Suatu keadaan menahan sikap panahan beberapa saat,
setelah penjangkaran dan sebelum anak panah dilepas. Pada saat ini otot-otot
lengan penahan busur dan lengan penarik tali harus berkontraksi agar sikap
panahan tidak berubah. Bersamaan dengan itu pemanah melakukan pembidikan. Jadi
pada saat membidik, sikap pemanah harus tetap dipertahankan.
Sumber: , M Kathleen and Lewis F.
Catherine Archery Steps to Succes
7.
Membidik (aiming)
Membidik (aiming), menurut Damiri:
“Gerakan mengarahkan atau menempelkan titik alat pembidik (visir) pada tengah
sasaran/titik sasaran.” Pada posisi membidik, posisi badan dari pemanah
diharapkan tidak berubah, kemudian pemanah tidak hanya fokus kepada sasaran
tetapi diutamakan pada teknik, dengan kondisi badan yang relaks, focus akan
lebih baik.
Sumber : www.archery.metu.edu.tr
8.
Melepas tali panah (relase)
Melepas tali/panah (release), menurut
Damiri: “Gerakan melepas tali busur, dengan cara merilekskan jari-jari penarik
tali.” Ada dua cara melepaskan anak panah, yaitu dead release dan active
release. Pada dead release setelah tali lepas, tangan penarik tali tetap
menempel pada dagu seperti sebelum tali lepas. Pada active release, setelah tali
lepas tangan penarik tali bergerak ke belakang menelusuri dagu dan leher
pemanah. Pelepasan anak panah yang baik diperlukan untuk memberikan kekuatan
penuh dari tali terhadap panah dalam setiap melepaskan panah yang diinginkan
dan untuk mencegah getaran tali yang tidak diperlukan, yang akan menyebabkan
panah berputar. Kesalahnan apapun pada saat melepaskan anak panah, mengibatkan
dampak yang sangat besar, terhadapm sasaran.
Sumber : www.archery.metu.edu.tr
9.
Menahan sikap panahan (after hold)
Menahan sikap panahan (after hold),
menurut Damiri, “Suatu tindakan untuk mempertahankan sikap panahan sesaat
(beberapa detik) setelah anak panah meninggalkan busur. Tindakan ini
dimaksudkan untuk memudahkan pengontrolan gerak panahan yang dilakukan.” Di
dalam buku penataran pelatih program pembinaan cabang olahraga panahan tingkat
SD dan SLTP after hold adalah Tangan busur tetap terentang pada posisi semula
lurus kearah sasaran dan tetap ditahan hingga dua detik setelah panah menyentuh
permukaan sasaran.
C. ANALISIS BIOMEKANIK TEKNIK RELEASE DALAM PANAHAN
1. poros gerakan dalam panahan
Teknik memanah yang benar terkait erat
dengan segi anatomi dan mekanika gerak. Dengan mekanika gerak, akan
memungkinkan terciptanya keajegan (consistency) yang baik. Mekanika gerak yang
terkait dalam olahraga panahan adalah dua poros (axis) gerak. Dua poros gerak
tersebut adalah: poros I dan poros II. Poros I (satu) adalah sikap bahu dan
sikap lengan penahan busur (bow hand) satu garis lurus. Sedangkan poros II
(dua) adalah sikap bahu dan sikap lengan penahan busur (draw hand) satu garis
lurus.
2. hukum newton
Hukum Newton I sebagaimana dirumuskan
oleh Sir Isaac Newton (1642-1772) adalah: “Sebuah benda terus dalam keadaan
diam atau terus bergerak dengan kelajuan tetap, kecuali jika ada gaya luar yang
memaksa benda tersebut mengubah keadaan.” Hukum I Newton juga menggambarkan
sifat benda yang selalu mempertahankan keadaan diam atau keadaan bergeraknya
yang dinamakan
inersia atau kelembaman. Oleh karena
itu, Hukum I Newton dikenal juga dengan sebutan Hukum Kelembaman. Hukum ini
mulai diterapkan dari mulai menarik busur, terutama dari sikap set up. Pemanah
tidak bisa hanya menggunakan otot bagian belakang saja dalam menarik, tetapi
harus menggunakan lengan atas dan tangan penarik dengan baik. Bagaimanapun
juga, jika pemanah secara kontinu menarik, berarti melepas posisi holding,
dimana kita butuh transfer ketegangan yang memungkinkan dari lengan atas dan
tangan penarik ke otot bagian belakang. Oleh karena itu, jika holding tidak
tercapai, tidak ada transfer ketegangan yang bisa terjadi. Selama fase
transfer, otot punggung secara kontinu menggerakkan scapula kearah tulang
belakang, ketika ketegangan dari lengan atas dan tangan penarik telah
ditransfer. Hukum inertia hanya diterapkan dari posisi holding. Scapulae
bergerak mendekat tulang belakang yang menyebabkan dada membuka dan tidak
berlebihan, ini penting supaya anak panah menjadi klik. Hukum Newton II
berbunyi: “Benda akan mengalami percepatan jika ada gaya yang bekerja pada
benda tersebut dimana gaya ini sebanding dengan suatu konstanta (massa) dan
percepatan benda”. Maksudnya, makin besar percepatan makin besar pula
kekuatannya, makin kecil percepatan makin kecil pula kekuatannya. Hukum ini
akan menerapkan momentum dari memulai gerakan menarik. Dengan demikian lebih
baik menarik yang cepat dan dalam garis lurus kira-kira 2-3 inchi di bawah
dagu.
Hukum Newton III berbunyi: “Dua benda yang berinteraksi akan timbul gaya pada masing-masing benda yang arahnya berlawanan arah dan besarnya sama”. Dalam hukum ini dijelaskan mengenai aksi dan reaksi. Dimana pada saat proses release, aksi yang diberikan ialah pada saat otot-otot scapula bekerja menarik tali kebelakang yang menghasilkan suatu reaksi yang disebut proses klicking, sehingga membuat anak panah terlepas dari busur.
Hukum Newton III berbunyi: “Dua benda yang berinteraksi akan timbul gaya pada masing-masing benda yang arahnya berlawanan arah dan besarnya sama”. Dalam hukum ini dijelaskan mengenai aksi dan reaksi. Dimana pada saat proses release, aksi yang diberikan ialah pada saat otot-otot scapula bekerja menarik tali kebelakang yang menghasilkan suatu reaksi yang disebut proses klicking, sehingga membuat anak panah terlepas dari busur.
3. prinsip gaya vertical dan horizontal
Dalam proses release, juga menuntut
adanya keseimbangan statis yang harus dipertahankan selama menembak. Keseimbangan
yang baik dan sesuai dengan biomekanik, dapat membuat pemanah melakukan teknik
yang baik dan membuat sedikit upaya dari otot yang terlibat dalam gerakan
tersebut. Posisi tubuh yang tepat akan menghasilkan sedikit keteganang pada
tubuh, sehingga sikap holding dan aiming dapat dicapai dalam proses release.
Pendistribusian berat badan merupakan komponen yang sangat penting pada
pendistribusian gaya vertikal dan horizontal.
Hubungan langsung dan secara proporsional antara gaya vertikal dan horizontal dalam panahan tidak dapat ditunjukkan dengan menggunakan gaya yang tepat. Bagaimanapun juga, dengan postur yang benar dan seimbang, kita bisa lebih kuat mengembangkan gaya yang lebih bermanfaat, sehingga bisa mencapai stabilitas yang lebih baik,
Hubungan langsung dan secara proporsional antara gaya vertikal dan horizontal dalam panahan tidak dapat ditunjukkan dengan menggunakan gaya yang tepat. Bagaimanapun juga, dengan postur yang benar dan seimbang, kita bisa lebih kuat mengembangkan gaya yang lebih bermanfaat, sehingga bisa mencapai stabilitas yang lebih baik,
4. force
Force/gaya yang di gunakan dalam proses
release adalah gaya internal (tekan) / internal forces terutama saat scapulae
dan sikut pada lengan kanan menarik kebelakang.
Vector/arah gaya terjadi pada saat gerakan sikut lengan kanan melakukan gerakan kebelakang baik pada saat menarik tali busur sampai melepaskan anak panah.
External Forces/tenaga dari luar, Dari awalan sampai proses release, Di luar tubuh, Hambatan udara dan gravitasi juga berpengaruh pada saat melakukan gerakan.
Vector/arah gaya terjadi pada saat gerakan sikut lengan kanan melakukan gerakan kebelakang baik pada saat menarik tali busur sampai melepaskan anak panah.
External Forces/tenaga dari luar, Dari awalan sampai proses release, Di luar tubuh, Hambatan udara dan gravitasi juga berpengaruh pada saat melakukan gerakan.
A.Kesimpulan
Dilihat dari karakteristiknya olahraga panahan adalah melepaskan panah melalui
lintasan tertentu menuju sasaran pada jarak tertentu. Dalam olahraga panahan
atau olahraga lainnya, atlet sangat dituntut untuk menampilkan penampilan
terbaiknya. Nampaknya ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi atlet yang tidak
terlatih, bahkan atlet terlatih pun seringkali mengalami kesulitan. Untuk
mengatasi hal ini dibantu dengan memahami biomekanik. Analisis biomekanik
sangat penting untuk terciptanya gerakan yang efisien, terutama dalam melakukan
teknik memanah. Dari berbagai urutan teknik dasar dalam olahraga panahan,
teknik release adalah faktor utama dalam penunjang ketepatan anak panah menuju
sasaran. Adapun analisa yang bisa didapat secara biomekanik antara lain: poros/axis
I dan II, Hukum Newton I, II, dan III, serta forces, mulai dari vertical dan
horizontal force, internal dan external force, serta vector atau arah gaya yang
bekerja.
b. saran
Setelah mempelajari lebih mendalam
makalah tentang analisa biomekanik teknik release dalam olahraga panahan ini
diharapkan seluruh insan olahraga mulai dari kalangan akademisi, atlet,
pelatih, dan pengurus cabang olahraga mau lebih giat lagi belajar mengenai ilmu
biomekanika agar perkembangan ilmu keolahragaan di Indonesia bisa sejalan
dengan perkembangan IPTEK sehingga nantinya diharapkan prestasi olahraga
Indonesia bisa meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar