RINTANI SEPTIANTI
XI IPA 1/TUGAS AGAMA ISLAM
Sudah
Saatnya Kita Bangkit…
Januari 16, 2008 pada 2:35 pm
oleh: Abu
Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani
Dalam kesempatan yang mulia ini,
kita memanjatkan puji syukur kepada Allah yang masih menganugerahkan kepada
kita, kesempatan untuk tetap mengecap nikmat Allah yaitu menuntut ilmu.
Sesungguhnya majelis-majelis Ahlus
Sunnah yang dipenuhi oleh kaum muslimin dalam rangka menuntut ilmu tentang
agama Allah, inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena majelis-majelis
ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah merupakan kelanjutan dari majelis-majelis
para nabi. Di sana diajarkan tentang wahyu Allah yang berupa Al Quran dan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga orang-orang yang
keluar dari majelis-majelis ahlus sunnah mampu membawa pengetahuan tentang
agama Allah, penambahan iman, dan kekuatan di dalam memegang As Sunnah. Maka
lahirlah dari majelis-majelis ilmu ini orang-orang yang militan terhadap agama
Allah.
Berkata Sahl bin Abdillah At Tusturi
rahimahullah:
من أراد أن ينظرإلى مجالس الأنبياء
فلينظرإلى مجالس العلماء
“Barangsiapa yang ingin melihat
kepada majelis-majelis para nabi ‘alaihimus shalaatu was salaam, maka silahkan
dia melihat kepada majelis-majelis para ulama”.
Apa yang menyebabkan majelis-majelis
para ulama disamakan dengan majelis-majelis para nabi? Jawabannya, karena
majelis-majelis itu sama-sama mengajarkan tentang agama dan hukum Allah. Oleh
sebab itu musuh-musuh Islam sangat tidak senang dan selalu membuat makar siang
malam agar para pemuda Islam tidak memenuhi majelis-majelis Ahlus Sunnah yang
mengajarkan tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Demikian pula ahlul bid’ah. Mereka
punya andil besar dalam mengkaburkan dakwah Ahlus Sunnah. Mereka selalu
menebarkan berbagai fitnah untuk menjauhkan para pemuda dari majelis-majelis
ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah. Mereka punya kepentingan, ambisi, dan
tendensi tertentu yang mendorong mereka untuk melarikan para pemuda dari
majelis-majelis Ahlus Sunnah. Sebab dengan keberadaan majelis-majelis Ahlus
Sunnah, para pemuda Islam tidak lagi menghiraukan dakwah mereka, tidak lagi
gampang dibodohi oleh mereka, dan tidak lagi mudah diperalat oleh mereka.
Melalui majelis-majelis Ahlus Sunnah, mereka mendengarkan pelajaran-pelajaran
tentang Al Quran dan Sunnah Rasulullah yang bersih dan lepas dari segala
kefanatikan, lepas dari segala kepentingan, lepas dari segala nuansa politik
yang kotor, dan segala ambisi para tokoh yang licik dan jahat. Inilah yang
sesungguhnya menjadi momok bagi ahlul bathil baik dari kalangan orang-orang
kafir maupun mubtadi’ah.
Amerika dan sekutunya sangat tidak
senang terhadap dakwah Ahlus Sunnah. Maka seperti itu pula ahlul bid’ah. Tidak
jauh kemungkinan bahwa berbagai aliran sesat dan menyimpang dari Islam yang
murni, sengaja dipelihara oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan para pemuda
islam dari dakwah Ahlus Sunnah dan Sunnah Rasulullah. Tidak jauh kemungkinan
bahwa yang membuat semakin keruh kondisi perpecahan, perselisihan, dan
pertikaian dalam agama ini adalah andil dan campur tangan Amerika beserta
sekutu-sekutunya yang memperalat ahlul bathil dan ahlul bid’ah untuk merusak
dakwah Islam, sehingga para pemuda Islam disibukkan dengan berbagai aliran,
pemahaman, dan pemikiran yang sesat lagi menyimpang. Sebagaimana hal ini,
pernah dinyatakan oleh guru kami yang mulia As-Syaikh Muqbil Al-Wadi’I -semoga
Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas-.
Kita menandaskan perkara ini,
dikarenakan orang-orang kafir tidak pernah diam dan rela terhadap kaum
muslimin. Mereka mengerti bahwa sesungguhnya bahaya laten yang paling
mengerikan adalah ketika para pemuda Islam mulai kembali mempelajari Al Quran
dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Mereka takut bila para pemuda
islam kembali membongkar kitab-kitab para ulama terdahulu, seperti kitab-kitab
Imam Malik, imam Syafi’i, imam Ahmad, imam Al-Bukhori, imam Muslim, dan para
ulama yang lainnya. Mereka tidak ingin para pemuda islam kembali kepada
generasi yang terdahulu. Padahal kebaikan itu sebagaimana yang dinyatakan oleh
Imam Malik rahimahullah:
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به
أولها
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara yang membuat baik generasi pendahulunya.”
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara yang membuat baik generasi pendahulunya.”
Demi kepentingan merusak pemahaman
Islam ditengah-tengah kaum muslimin, orang-orang kafir mendirikan berbagai
sekolahan, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi,baik formal atau non
formal, yang dengan sengaja mendalami Islam guna merusaknya. Mereka berhasil
menguasai literatur-literatur Islam. Banyak manuskrip yang masih dalam bentuk
tulisan tangan para ulama Ahlus Sunnah berada di negeri-negeri mereka dan
dijaga ketat oleh mereka. tidak sembarang orang bisa mengambil dan
memanfaatkannya. Bahkan jika kaum muslimin sendiri ingin menggunakan
literatur-literatur itu terpaksa harus membayar kepada mereka. Itu pun hanya
mendapatkan kopiannya saja. Padahal siapa yang lebih berhak terhadap
referensi-referensi tadi?
Sekian banyak kitab para ulama Ahlus
Sunnah berada di tangan mereka. Mereka berupaya mempelajari bidang-bidang
disiplin keilmuwan Islam dan mendalami kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.
Mereka punya sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan
perguruan-perguruan tinggi yang langsung mendidik kader-kader untuk mempelajari
sekaligus merusak Islam. Mereka mempelajari Islam dengan harapan bisa membuat
kekacauan, pengkaburan, dan pemahaman yang keliru terhadap Islam. Mereka
mempelajari Al Quran dengan berbagai tafsirnya dan kitab-kitab hadits dengan
berbagai penjelasannya. Setelah itu, mereka berusaha mencari perkara-perkara
samar yang kira-kira bisa dipakai sebagai senjata makan tuan terhadap kaum
muslimin. Syubhat-syubhat mereka yang tajam dengan gampang mampu menembus
jantung-jantung kaum muslimin yang lemah iman dan ilmu agamanya.
Orang-orang yang masuk ke dalam
sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi
mereka ini, akan lulus sesudah berstatus sebagai zindiq atau Munafik. Merekalah
para orientalis yang merusak Islam. Subhanallah, ternyata mempelajari Al-Quran
dan As-Sunnah bila tidak dengan aqidah dan niat yang benar, tidak akan
menggiring kepada hidayah Allah kecuali bagi siapa yang dirahmati oleh Allah.
Salah satu kisah yang menjadi
pukulan berat dan telak atas musuh-musuh islam adalah peristiwa yang dialami
oleh seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Muhammad Khalil Harras
rahimahullah. Insya Allah kebanyakan penuntut ilmu mengenal beliau walaupun
melalui tulisan-tulisannya. Di antara karangan beliau adalah kitab “syarhul
‘Aqidatil Waasithiyyah” dan banyak lagi yang lainnya.
Sesungguhnya beliau rahimahullah
adalah seorang profesor dalam bidang ilmu kalam, filsafat, di Universitas Al
Azhar, Mesir. Beliau ditugaskan secara khusus oleh pembimbingnya untuk meneliti
seluruh karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang membantah kebatilan
filsafat ahlul kalam. sampai saat itu bahkan saat ini, bantahan syaikhul islam
belum pernah terjawab oleh mereka. Syaikh Muhammad Kholil Harras karena
kejeniusan dan kecerdasannya diminta untuk mempelajari kitab-kitab Syaikhul
Islam, yang nantinya akan digunakan untuk menyerang kembali pemahaman-pemahaman
yang diajarkan oleh syaikhul Islam. Maka beliau rahimahullah mulai mempelajari
satu per satu dari kitab-kitab Syaikhul Islam.
Ternyata Allah berkehendak lain
terhadap beliau. Allah takdirkan bahwa dengan mempelajari, mendalami, memeriksa
dan meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam rahimahullah, justru beliau mendapat
petunjuk kepada kebenaran pemahaman Ahlus Sunnah. Akhirnya, beliau benar-benar
mengetahui bagaimana kebenaran ahlus sunnah dalam bidang aqidah, manhaj, dan
yang lainnya, terlebih khusus dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Sehingga Asy Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah kembali kepada jalan
yang haq, dakwah Ahlus Sunnah, dan meninggalkan pemahamannya yang semula.
Beliau mengikrarkan bahwa dirinya kembali kepada pemahaman yang dibawa oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu pemahaman Ahlus Sunnah yang
berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.
Beliau tinggalkan gurunya dan terus
giat mempelajari serta meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
sampai akhirnya beliau dianggap sebagai ulama yang kokoh dan mapan dalam bidang
aqidah secara khusus. Beliau sangat mengerti tentang pemahaman yang dikemukan
oleh Syaikhul Islam, yang sekaligus merupakan madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
dalam bidang aqidah, terlebih khusus mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Selanjutnya beliau berpindah ke
negara Saudi Arabia. Di negeri ini, lebih memungkinkan bagi beliau untuk
mempelajari dan mengembangkan kemampuan ilmiah tentang pemahaman Ahlus Sunnah,
sekaligus menyebarkan ilmu dan dakwah Ahlus Sunnah yang telah dibukakan oleh
Allah kepada beliau.
Banyak karangan beliau dalam bidang
aqidah dan rata-rata karya tulis beliau sangat baik. Diantaranya “Syarhul
‘Aqidatil Waasithiyyah”, yang selama ini selalu menjadi rujukan bagi para ulama
dan penuntut ilmu dalam melihat pemahaman yang dimaksud oleh Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Al ‘Aqidatul Waasithiyyah”. Kitab beliau yang
lain yaitu syarh (penjelasan) terhadap “An-Nuuniyyah” karya Ibnul Qayyim
rahimahullah. Disamping itu, beliau rahimahullah juga membuka majelis ilmu
untuk mengajarkan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Majelis ilmu yang beliau
adakan mampu melahirkan ulama yang kokoh dalam bidang aqidah seperti beliau. Di
antara murid-murid beliau yang terkenal dan dianggap sebagai salah seorang
ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mapan dalam bidang aqidah, yaitu Asy Syaikh
Muhammad Aman Al Jami rahimahullah.
Demikianlah sesungguhnya
majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah, ternyata sangat ditakuti
oleh musuh-musuh Islam. Suatu hal yang masih saya ingat dari ucapan guru kami
As-Syaikh Muqbil rahimahullah, di mana beliau tak jarang mengatakan kepada para
muridnya: “Ya ikhwan, demi Allah, sesungguhnya Amerika dan sekutu-sekutunya
tidak takut kepada tank-tank baja dan segala persenjataan yang kita miliki.
Yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam adalah majelis-majelis ilmu yang
seperti ini. Karena majelis-majelis ilmu ini yang akan melahirkan orang-orang
yang mengerti tentang agama Allah, ikhlas, jujur, dan bersungguh-sungguh dalam
memperjuangkannya”, atau sebagaimana yang diucapkan oleh beliau rohimahullah.
Adapun orang-orang yang selalu
berteriak dengan yel-yel jihad. Padahal yang mereka maksud dengan jihad adalah
memberontak atau kudeta terhadap pemerintah-pemerintah kaum muslimin dan
mengacaukan stabilitas keamanan mereka. Demi Allah sesungguhnya mereka tidak
ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Tanpa mereka sadari, justru mereka telah
menjadi jongos, kaki tangan, serta antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Islam
dan kaum muslimin sangat dirugikan dengan keberadaan mereka. Akibat aksi-aksi
teror mereka yang arogan dan tidak sesuai dengan syariat islam di berbagai
negeri, orang-orang kafir akan dengan gampang menjelek-jelekan Islam. “Coba
lihat agama Islam yang haus akan darah. Coba lihat agama Islam yang selalu
membuat kekacauan. Coba lihat kaum muslimin, mereka adalah para teroris”. Masih
banyak lagi tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan kepada Islam dan kaum
muslimin karena tindakan-tindakan bodoh dan gegabah yang mereka lakukan itu.
Sehingga di sebagian negara seperti
Inggris, kita dapatkan seorang yang memiliki janggut panjang sampai ke dadanya,
berorasi dengan menyuarakan “Jihad!! Jihad!!”, di televisi secara bebas. Tak ada
pihak penguasa yang menghiraukan, menggubris, terlebih lagi menangkapnya. Hal
itu terjadi berulang kali, sebagaimana yang diberitakan kepada saya oleh
sebagian ikhwan salafi inggris yang insyaallah terpercaya. Inilah diantara
indikasi yang menguatkan asumsi bahwa mereka itu justru menjadi jongos, kaki
tangan, dan antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Sebab musuh-musuh Islam
mengetahui dengan baik bahwa yang dilakukan kaum pergerakan itu dapat merusak
agama kaum muslimin dan tidak memperbaikinya.
Tetapi mereka, seperti pepatah orang
kita, lempar batu sembunyi tangan. Mereka balik menuduh bahwa Ahlus Sunnah yang
telah menjadi kaki tangan Amerika dan musuh terhadap dakwah Islam. Mereka
mengatakan, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah itu dibantu oleh Amerika atau dibantu
oleh Israil”.
Na’uuzubillahi min zalik.
Na’uuzubillahi min zalik.
Ini pula yang disebut dalam pepatah
arab yang artinya:
“Dia melemparku dengan penyakitnya
kemudian dia berlalu”.
Oleh karena itu, hendaklah para
pemuda dan pemudi islam menyadari kondisi ini. Sudah saatnya mereka bergegas
utuk mempelajari islam yang benar dengan sumber yang terpercaya, yaitu Al-Quran
dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Marilah kita bangkit dari
kelalaian, kelengahan, dan keteledoran kita selama ini. Hendaknya kita
tinggalkan segala perkara yang tidak bermanfaat dan kesia-siaan. Singsingkan
lengan baju kita untuk berjibaku dengan ilmu dan meninggalkan segala perdebatan
yang tidak bermanfaat. Kita yakin sepenuhnya bahwa Allah akan membela agama dan
para wali-Nya. Tak ada yang mampu membongkar kedok kebathilan kecuali hanya
Allah, melalui kemapanan ilmu dan hujjah yang diberikan-Nya kepada orang-orang
mulia dari para hamba-Nya. Dahulu para Salaf kita yang baik, menyingkirkan
segala kesesatan dengan kekuatan ilmu dan hujjah bukan dengan kekuatan lisan
semata. Akhirnya, kita memohon semoga Allah mengokohkan hati-hati kita diatas
islam.
Wallahu a’lam bish shawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar